Ketika saya pertama kali membeli rumah type 54, saya pikir ini cukup besar untuk keluarga kecil kami. Tapi, setelah beberapa tahun dan dua anak tambahan, saya mulai menyadari kalau rumah ini terasa seperti permainan puzzle. Saya harus mengatur ulang furnitur setiap kali kami membeli barang baru. Solusinya? Menambah lantai kedua. Tapi, wow, siapa sangka prosesnya bisa jadi serumit itu?
Saat mulai merencanakan renovasi, saya benar-benar bingung. Mulai dari desain, anggaran, hingga kontraktor—semua terasa seperti berjalan di labirin. Saya ingat berdiskusi dengan kontraktor tentang tangga. Mereka memberi beberapa opsi: tangga lurus, spiral, atau L-shape. Saya pikir spiral terlihat keren, tapi ternyata kurang praktis untuk membawa barang besar ke lantai atas. Keputusan ini baru saya sadari setelah hampir menjatuhkan kasur saat memindahkannya. Jadi, pelajaran pertama: pikirkan fungsionalitas, bukan hanya estetika.
Kami ingin lantai kedua menjadi area privat, jadi kamar tidur utama dan kamar anak-anak kami letakkan di atas. Namun, saya juga belajar untuk tidak mengabaikan ruang penyimpanan. Saran saya, buat gudang kecil atau area penyimpanan di bawah tangga. Ruangan itu sekarang jadi tempat favorit saya untuk menyembunyikan barang yang tidak tahu mau diletakkan di mana (halo, vacuum cleaner!).
Saya juga belajar pentingnya ventilasi. Setelah renovasi selesai, kami menyadari lantai atas terasa lebih panas. Untungnya, memasang jendela besar dan ventilasi tambahan bisa membantu. Kalau Anda merencanakan hal serupa, pastikan ventilasi ini masuk dalam desain awal.
Renovasi rumah selalu datang dengan kejutan. Dalam kasus saya, kejutan itu berupa biaya tambahan untuk memperkuat struktur lantai dasar. Rumah type 54 standar biasanya tidak dirancang untuk menopang beban dua lantai. Kontraktor saya menjelaskan bahwa kami perlu menambahkan kolom beton ekstra. Meskipun ini bikin anggaran membengkak, saya senang kami melakukannya. Keamanan itu nggak bisa ditawar.
Renovasi memang mahal, tapi bukan berarti harus boros. Berikut beberapa tips yang saya pelajari:
Satu kesalahan besar saya adalah terlalu banyak diskusi dengan teman. Semua orang punya pendapat berbeda tentang renovasi, dan saya terlalu sering mengganti desain karena terpengaruh komentar orang lain. Akhirnya, saya belajar untuk fokus pada kebutuhan keluarga saya sendiri. Jadi, saran saya: pegang teguh visi Anda sejak awal.
Oh, dan satu lagi, jangan lupa soal pencahayaan! Saya lupa menambahkan lampu di lorong tangga, dan setiap malam terasa seperti menjelajahi gua. Pastikan setiap sudut rumah punya pencahayaan yang cukup, terutama area yang sering dilewati.
Setelah semua selesai, rumah type 54 kami benar-benar berubah. Rasanya seperti punya rumah baru tanpa harus pindah. Memang, prosesnya penuh tantangan, tapi setiap keputusan (bahkan yang salah sekalipun) memberi pelajaran berharga. Kalau Anda sedang mempertimbangkan untuk merenovasi rumah type 54 jadi dua lantai, saya harap pengalaman saya ini membantu Anda mempersiapkan diri lebih baik.
Renovasi memang butuh usaha ekstra, tapi percaya deh, hasilnya bakal sepadan!
Designed with WordPress